Berapa kali kita mendengar teman bilang, "Yang penting lulus!" atau "Asal IP di atas 3,0 aja cukup"? Di era kompetitif ini, banyak mahasiswa yang terjebak dalam mindset bahwa pendidikan hanya soal angka dan gelar. Padahal, Islam punya konsep yang jauh lebih mulia tentang menuntut ilmu. Yuk, kita gali lebih dalam makna sejati pendidikan dalam perspektif Islam!

Ilmu: Cahaya yang Menerangi Kehidupan

Islam menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi. Bukan tanpa alasan, ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah untuk membaca: "Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-Alaq: 1). Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah fondasi utama dalam Islam, bahkan sebelum perintah salat dan zakat.

Rasulullah SAW juga menegaskan: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah." (HR. Ibnu Majah). Hadis ini tidak membedakan gender, status sosial, atau usia. Semua umat Islam wajib belajar sepanjang hayat, dari buaian hingga liang lahat.

Niat yang Menentukan Berkah

Yang membedakan pendidikan Islami dengan pendidikan sekuler adalah niat dan tujuannya. Ketika kita kuliah hanya untuk mendapat pekerjaan bergaji tinggi atau sekadar membanggakan orang tua, ilmu yang kita dapat akan hampa berkah. Sebaliknya, jika kita menuntut ilmu dengan niat lillahi ta'ala (karena Allah), maka setiap proses belajar akan bernilai ibadah. Imam Al-Ghazali dalam kitab "Ihya Ulumuddin" menjelaskan bahwa ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Artinya, ilmu yang kita pelajari harus diimplementasikan untuk kebaikan umat.

Adab Menuntut Ilmu yang Terlupakan

Dalam tradisi Islam, ada adab khusus dalam menuntut ilmu yang sayangnya mulai terkikis. Pertama, hormat kepada guru. Imam Syafi'i berkata, "Aku tidak pernah membalik-balik kertas di hadapan Imam Malik karena takut mengganggu beliau." Ini menunjukkan betapa tingginya penghormatan terhadap guru.

Kedua, rendah hati dalam belajar. Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan meninggikan derajatnya." (HR. Muslim). Jangan sombong dengan ilmu yang sedikit, karena semakin kita belajar, semakin kita sadar betapa luasnya lautan ilmu Allah.

Ketiga, konsisten dan sabar. Menuntut ilmu bukan sprint, tapi marathon. Butuh kesabaran untuk memahami konsep yang sulit, dan konsistensi untuk terus belajar meski menghadapi kegagalan.

Ilmu yang Bermanfaat vs Ilmu yang Menyesatkan

Islam mengajarkan kita untuk memilih ilmu yang bermanfaat. Dalam doa yang diajarkan Rasulullah SAW: "Allahumma inni as'aluka 'ilman nafi'an" (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat). Ilmu yang bermanfaat adalah yang mendekatkan kita kepada Allah dan membawa kebaikan bagi sesama.

Sebagai mahasiswa, kita perlu bijak memilih fokus studi. Tidak semua ilmu layak dipelajari jika bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Misalnya, ilmu yang digunakan untuk merusak lingkungan atau menyakiti sesama manusia.

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Konsep "lifelong learning" sebenarnya sudah ada dalam Islam sejak 14 abad lalu. Rasulullah SAW bersabda: "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat." Artinya, belajar tidak berhenti setelah lulus kuliah. Justru di situlah pembelajaran sejati dimulai.

Di era digital ini, kesempatan belajar semakin terbuka lebar. Kita bisa mengikuti kursus online, membaca jurnal ilmiah, atau bergabung dengan komunitas ilmiah. Yang penting, tetap jaga niat dan tujuan belajar agar selalu dalam koridor yang diridhai Allah.

Ingatlah, ilmu adalah investasi terbaik yang tidak akan pernah hilang. Bahkan setelah kita meninggal, amal jariyah berupa ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya. Jadi, mari kita ubah mindset tentang pendidikan: bukan sekadar mengejar nilai, tapi mengejar ridha Allah melalui ilmu yang bermanfaat.

Referensi:

  1. Al-Qur'an, QS. Al-Alaq: 1
  2. Hadis Rasulullah SAW tentang kewajiban menuntut ilmu (HR. Ibnu Majah)
  3. Al-Ghazali, "Ihya Ulumuddin: Kitab Ilmu"